Laut Menghasilkan Oksigen Lebih Banyak Daripada Hutan

Tahukah kamu laut menghasilkan OKSIGEN lebih banyak daripada hutan? Ya, bisa mencapai 80%. Itu salah satu alasan kita harus benar-benar menjaga laut kita. Satu slogan yang sering kita dengar: TERUMBU KARANG adalah RUMAH IKAN. Dan itu memang benar.

Hilangnya terumbu karang akan merontokkan keseluruhan kehidupan di laut. Tahun 2010 saya pernah meliput dan memotret transplantasi terumbu karang di satu lokasi di Bali. Pelaksanaannya melalui proses research yang mendalam disertai para ahli.

Tak lama setelah itu, banyak dan sering saya dengar event “penanaman” terumbu karang di berbagai wilayah di Indonesia. Sering pula saya menyaksikan betapa usaha pengembangbiakan corals itu berakhir dengan menambah SAMPAH di laut karena dilakukan tanpa persiapan dan penelitian oleh para ahli.

Ketika pertama kali saya diperkenalkan dengan kegiatan Sheba®️, bagian dari Mars Pet Care bersama masyarakat lokal di Bontosua, Sulawesi, saya kembali memiliki harapan bahwa ada pihak yang serius melakukan restorasi terumbu karang.

Didukung para ahli di bidangnya, mereka berhasil merestorasi terumbu karang di sekitar pulau dari 5% menjadi 55%, yang disertai dengan peningkatan habitat ikan hingga 300%. Kini instalasi terumbu karang yang membentuk tulisan HOPE itu bisa kita lihat lewat Google Earth.

KAMU…. ya KAMU juga bisa ikut mendukung kegiatan ini dengan cara yang sangat mudah: tonton dan share video “THE FILM THAT GROWS CORAL” di Youtube Shebahopegrows. Karena setiap hasil dari views akan digunakan untuk restorasi terumbu karang. Filmnya juga keren. Cara yang MUDAH untuk ikut melindungi LAUT KITA.

KAGET SAYA ketika membaca salah satu definisi “karang” dalam KBBI (online). Lebih kaget lagi ketika mencari kata “koral”. Kedua kata itu didefinisikan sebagai TUMBUHAN laut.

Tidak aneh kalau banyak orang akan melihat sebagian besar yang tampak dalam foto ini adalah tumbuhan ataupun bunga. Padahal sebagian besar (mungkin semua) di foto ini adalah kelompok binatang. Mereka tidak berfotosintesa.

Ini hanyalah salah satu contoh kecil bagaimana bahasa yang digunakan untuk habitat laut banyak yang tidak tepat. Kalau kamu menemukan kasus-kasus serupa, bagikan di komentar ya. Kamu bisa juga tag teman kamu yang mungkin tertarik soal informasi ini. Lakukan supaya lebih banyak orang mencintai laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *